Salam Rindu Terbilang

Ini mungkin bukan cinta tak bersikap
Pelukan kecil samar menghangatkan lorong 
Hati yang lama tersurat, tak lagi kosong mengendap dekat
Tapi ini mungkin bukan pula gelisah syahwat

Laron Malam

gambar. yusufzed.wordpress.com
mencuri waktu diantara dingin dan rintik hujan
pandangan mulai menyempit dari cahaya lampu pijar
menjadi kaku dan tanpa sigap aku berkata
tak kutemukan makna, hingga aku meresah merenung
ku tanya malam
tak juga kunjung bicara
kutanya siang
apalagi masih dalam tungguan
kutanya petang
gelengkan kepala kabur mata memandang
akhirnya aku bertanya pada laron penjaga malam

Gunung Loncek, 5 Nov 2015

Pohon Mantra

hoooooooo …
ku kecap rasa lidah memamah daun-daun pucuk beringin
meraba kasar kulit meranti menari-nari tiada arti
haooooooo …
ku jampi-jampi kepingan belian terbelah-belah mencari tanah
menyanyat-nyayat pohon

Coretan Bumi Khatulistiwa



Puisi oleh Edi Nawang

Mengoreksi alam bumi
Engkau julukan badan khatulistiwa
Memuat seribu satu kisah
Engkau jadi di angka seribu tujuh tujuh satu
Kini ku lukiskan wajahmu serupa senopati yang kalah bertarung
Cemberut kusut bagai temali kusut

Pilar Negaraku



Puisi oleh Edi Nawang

Dari sudut negeri terlihat
Anak-anak negeri di danau Otong, KalBar//oleh Edi Nawang
Tercampak moral moyangku
ketamakan sesaat
Kuratapi pilar kemakmuran
Berlantaikan lumpur

Goresan Tinta Makna



Puisi oleh, Edi Nawang
bubu//perangkap ikan,Photo, Edi Nawang

Baik
Semuanya itu
Aku jalani hariku
Tiada pernah lelah berjuang
Bertemu para sahabat dan anak diluar sana
Mendengar kisah sribu satu makna
Hingga jejak waktupun terus lenyab berselimut senja

Sisa Sejarah Tersisa

Puisi oleh, Edi Nawang
Aku
Berbilah kata
Tak kutemukan cinta
Pagi merekah pertanda smangat
Hanya saja aku mengukir kisah dedaunan
Ranting-ranting tak lagi berhitung nilai sejarah
Lihat, tak lagi hijau pucuk dalam lamunan makna
Dengarlah, tersisa kicauan harapan dibalik resahnya dalam
Lihat, tak lagi hijau pucuk dalam lamunan makna
Ranting-ranting tak lagi berhitung nilai sejarah
Hanya saja aku mengukir kisah dedaunan
Pagi merekah pertanda smangat
Tak kutemukan cinta
Berbilah kata
Aku
Gunung Loncek, 27 April 2015


Hingga Aku Diam



Oleh. Edi Nawang

kutipan makna sejarah panjang hingga mengukir kisah kayu meranti
Tak terdengar suara alam merintih kesakitan
Para kuli tidur anak roda patah tulang
Tak peduli kilat, petir, datang menjadi saksi kampung bisu
Diam berdiri menuai kisah seribu bayangan
Anak cucu tak lagi bermain melompati tali jerami terbungkus awan
Burung-burung menerjang angin topan menyapu bumi
Hujan turun menjadi bengis seolah tak ada cerita serpihan hidup nafas beradu mati
Cacing pun berseri dalam lamunan
lemah meniti akar ulin